Tentang Filsuf Mengubah Pola Pikir

Alasan Tentang Filsuf yang Mengubah Pola Pikir - Kata Philosopher berasal dari bahasa asing yaitu Philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Philosophia terdiri dari dua kata yaitu Philos dan Sophia. Philos berarti cinta, kesenangan, cinta. Sedangkan sophia berarti pengetahuan, kebijaksanaan, dan kebijaksanaan.

Filsuf 
Menurut informasi tentang pemahaman filosofis adalah aktivitas berpikir yang lebih dalam terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam kehidupan seperti untuk apa alam semesta diciptakan, apa tanggung jawab manusia kepada Tuhan, bagaimana mengatur, dan banyak lagi. Para Filsuf telah ada selama lebih dari 2000 tahun.

tetapi pada saat itu para filsuf belum mampu dan tidak akan pernah bisa memberikan jawaban yang absolut. Tetapi para filsuf mampu memberikan jawaban yang rasional, sistematis dan kritis. Para filsuf yang terkenal dengan pemikiran agung mereka termasuk Aristoteles, Plato, Jacques Derrida, Immanuel Kant, dan Thomas Aquinas.

Setiap filsuf memiliki perspektif yang berbeda, oleh karena itu para filsuf sangat menarik untuk dipelajari. Berikut adalah aliran filosofis yang memengaruhi pola pikir manusia. Jangan lupa kunjungi juga tautan pewartanusantara.com ini.

Apa Saja Alasan Tentang Filsuf yang Mengubah Pola Pikir?


Rasionalisme

Rasionalisme adalah aliran filsuf yang berpegang teguh pada nalar. Itulah mengapa Rasionalisme menganggap alasan sebagai alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Menurut aliran ini, pengetahuan dapat dicari dengan alasan dan penemuan dapat diukur dengan alasan juga.

Tujuan dicari dengan alasan adalah menggunakan pemikiran logis, sedangkan tujuan diukur dengan alasan adalah untuk menentukan apakah penemuan dapat dikatakan logis atau tidak. Jika logis, maka bisa dipastikan benar, jika tidak logis, maka sebaliknya.

Baca Juga : http://erwin134.student.unidar.ac.id/2020/07/cara-menjalankan-bisnis-dengan-sukses.html

Empirisme

Berbeda dengan Rasionalisme yang hanya mengandalkan akal untuk menentukan kebenaran. Empirisme membutuhkan bukti sensorik untuk menentukannya. Verifikasi sensorik dilihat, didengar dan dirasakan. Untuk info lainnya kunjungi juga tautan https://pewartanusantara.com/fenomena-ngahiang-di-balik-kedigdayaan-padjajaran/ ini.

Menurut aliran Filsuf ini, pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman dan indera. Kebenaran berdasarkan pengalaman telah berdampak pada bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia.